Pernahkah kamu berpikir, seperti apa sebenarnya definisi hidup yang bahagia itu? Memiliki hal yang diinginkan mungkin bisa jadi parameternya. Namun pada dasarnya, hidup berubah jadi bermakna tatkala kita bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitar.

Para peserta kompetisi Millennials Berkarya ini merupakan contoh-contoh orang dengan jiwa sosial yang peduli pada sekitar. Melalui kampanye yang diajukan, banyak dari mereka bercita-cita untuk membantu kehidupan masyarakat–sesuatu yang bersifat mulia, bukan?

Bantu Siswa Mida Merenovasi Sekolah

https://kitabisa.com/bantumida

Seumur hidupnya, Nadiya Atmim tak pernah mengalami kesulitan dalam mengakses pendidikan. Namun kisah perjuangan teman-teman di MI Darussalam (MIDA) menggerakkan hatinya untuk melakukan penggalangan dana sosial. Terletak di Jawa Tengah, sekolah tanpa jendela ini berada dalam kondisi yang sangat miris: tak berlantai, tak memiliki jendela, minim fasilitas.

Padahal, sekolah gratis ini menjadi tumpuan bagi anak-anak kelas bawah di sekitarnya untuk mendapatkan pendidikan gratis. Bahkan, banyak dari mereka yang menempuh perjalanan jauh dari desa luar, hanya untuk belajar di sekolah tersebut. Itulah sebabnya, Nadiya melalui Millennials Berkarya pun mencoba mensosialisasikan keadaan MIDA, hingga akhirnya berhasil mengumpulkan dana untuk tindakan renovasi sekolah.

Bantu Masyarakat Desa Sukamenak di Jatigede

https://kitabisa.com/bantujatigede

Terkadang, kita dituntut untuk melakukan pengorbanan demi tujuan yang lebih besar. Mungkin itulah yang dipikirkan oleh masyarakat Desa Sukamenak. Terbiasa beraktivitas di sawah, adanya mega proyek pengenangan desa untuk membangun waduk Jatigede membuat beralih ke lahan pekerjaan baru, di area waduk. Jika dulu mereka bisa memanen beras dengan mudah, kini mereka harus berjuang mempelajari budaya perikanan–sesuatu yang asing bagi mereka. Itulah sebabnya, melalui kampanye ini Ricky Ardian ingin membantu masyarakat mendirikan tempat pelelangan ikan.

Bantu Anak-anak Merenovasi Rumah

https://kitabisa.com/yukbantualqo

Sebagai salah satu pengurus Panti Asuhan Al-Qomariyah, Ipah merasa prihatin dengan kondisi ‘rumah’ tersebut. Bagaimana tidak: puluhan anak berbakat menggantungkan nasibnya dengan menghuni bangunan yang tak layak huni tersebut? Ruangan-ruangan di dalamnya sudah jelek, banyak atap bocor, dan gerah sekali. Padahal, anak-anak tersebut memiliki semangat yang sangat tinggi untuk bisa berkegiatan bahkan berwirausaha, seperti orang-orang kebanyakan. Melalui Millennials Berkarya, Ipah dan teman-teman pengurus panti pun berupaya melakukan penggalangan dana untuk melakukan renovasi.

Wujudkan SMP Penghapal Qur’an

https://kitabisa.com/pesantrennuruliman

Pendidikan agama yang mumpuni merupakan kunci untuk menghasilkan santri berdedikasi baik di masa depan. Setidaknya, itulah yang dicita-citakan lewat pembangunan SMP Islam Nurul Iman. Dengan adanya sekolah yang lebih layak, diharapkan calon-calon santri tersebut bisa termotivasi untuk mengejar pendidikan agama mereka, dan meneruskan ilmunya ke orang lain. Meski sempat dalam kondisi mengenaskan, berkat penggalangan dana yang dilakukan kini secara bertahap pembangunan ruang sekolah tersebut dapat dijalankan.

Kisah Bu Dian dan Rumahnya yang Hampir Roboh

https://kitabisa.com/impianseorangibu

Salah satu kenyamanan paling mendasar yang dibutuhkan manusia ialah rumah. Namun bagaimana jika hunian tersebut ternyata tak bisa menampung kita dengan baik? Kisah Bu Dian dan rumahnya yang tak layak huni menjadi perhatian teman-teman di Komunitas Gerak Cepat.

Selama ini, Bu Dian dan anak-anaknya tinggal di rumah peninggalan orangtua yang sudah terbengkalai; bocor di mana-mana, kayu rapuh, bahkan tak berlantai. Untuk menghidupi keluarganya saja pun, Bu Dian harus berjuang mati-matian. Itulah mengapa melalui Millennials Berkarya, komunitas ini ingin membantu Bu Dian untuk membangun rumah layak huni bagi anak-anaknya.

 Renovasi Madrasah di Pulau Longos, NTT

https://kitabisa.com/madrasahlongos

Bagi yang tak tahu, Madrasah Ibtidaiyah Swasta Al Awwalul Huda mungkin nampak seperti bangunan tak terurus dan menyeramkan. Namun bagi anak-anak di Pulau Longos, madrasah tersebut adalah satu-satunya harapan mereka untuk menimba ilmu. Sebelumnya, mereka harus berjalan berkilo-kilometer menembus hutan yang dipenuhi komodo, untuk bisa mencapai sekolah terdekat. Kini perlahan-lahan berkat penggalangan dana yang dilakukan melalui Millennials Berkarya, pembangunan madrasah tersebut pun sudah berjalan–bahkan hingga memiliki atap.

Pembangunan Asrama Putra PonPes Al-Muhajirin

https://kitabisa.com/asramaputra

Pada dasarnya, kita wajib membantu kehidupan orang-orang yang membutuhkan. Mungkin, semangat itu yang dibawa oleh pengurus Pondok Pesantren Al-Muhajirin tatkala menerima para santri cilik–kebanyakan ialah kaum yatim piatu. Hanya saja, ponpes itu sendiri berada dalam kondisi yang mengenaskan.

Selain minim fasilitas pendidikan, ponpes ini pun tak layak untuk dihuni. Para santri cilik tersebut terpaksa tidur seadanya, hanya beralaskan tikar. Untuk itu melalui penggalangan dana Millennials Berkarya, mereka bermimpi untuk mendirikan asrama putra bagi para santri yang ada di sana.

Bantu Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Magetan

https://kitabisa.com/paymmagetan

Setiap orang berhak mendapatkan fasilitas kehidupan dan pendidikan yang layak. Termasuk anak-anak yatim. Melalui Millennials Berkarya, pengurus panti asuhan Muhammadiyah Magetan berupaya untuk memperbaiki bangunan panti, serta menyediakan fasilitas baru, misalnya seperti ruang baca.

Bantu Pak Hasan Miliki Rumah Layak

https://kitabisa.com/bantupakhasan

Keluarga Pak Hasan tergolong besar–dengan 5 anak yang dimilikinya. Namun nyatanya, rumah mereka tak bisa menampung keluarga tersebut dengan layak. Atapnya bocor di mana-mana, kayunya lapuk, dan sulit untuk bisa beristirahat dengan nyaman. Itulah sebabnya, beberapa relawan tergerak hatinya untuk membantu keluarga Pak Hasan dan mengusahakan pembangunan.

Sekolah Layak untuk Adik-adik Dusun Bara, SulSel

https://kitabisa.com/sekolahlayakadikbara

Ada banyak cita dan mimpi di Bara. Namun, kondisi sekolah yang jauh dari kata layak membuatnya tak mampu memfasilitasinya. Padahal, anak-anak di sana sangat bersemangat untuk bersekolah dan menimba ilmu. Berbekal kenyataan tersebut, relawan di Komunitas Koin Untuk Negeri pun berinisiatif untuk menggalang dana demi pembangunan sekolah tersebut. Mereka yakin, bahwa pembangunan ini bukan cuma menyangkut soal menyediakan fasilitas yang layak. Lebih dari itu, sekolah ini diharapkan bisa memotivasi mereka untuk meningkatkan taraf kehidupan.

#SerbuMentari

https://kitabisa.com/serbumentari

Bagaimana rasanya jika akses jalan di sekitar kita sangat buruk? Tentunya, musim hujan akan terasa seperti malapetaka. Namun itulah yang dialami oleh penduduk desa Mentasan, Cilacap. Saat hujan, jalanan di desa mereka akan tergenangi air–layaknya kolam! Padahal tanpa adanya infrastruktur yang memadai, maka mobilitas dan aktivitas masyarakat setempat jadi terhalang. Untuk itu, inisiatif #SerbuMentari diadakan: Sehari Seribu for Mentasan Tanjungsari. Melalui Millennials Berkarya, mereka berharap untuk bisa memberikan akses bagi masyarakat Mentasan menuju kehidupan yang lebih layak.

Membangun Rumah yang Layak untuk Ustadz Edi

https://kitabisa.com/rumahustadz

Bagi Ustadz Edi, mengabdi untuk kehidupan beragama di lingkungannya adalah misi hidupnya. Berhasil membangun masjid sederhana dibantu oleh orang-orang di sekitar, kehidupan Ustadz Edi sendiri cukup memprihatinkan. Rumahnya nampak seperti gubuk yang terbuat dari kayu lapuk. Untuk itu, relawan Masjid Nusantara pun melakukan penggalangan dana melalui Millennials Berkarya. Mereka percaya bahwa dengan mendukung Ustadz Edi untuk mendapatkan hidup yang layak, maka akan semakin memotivasi Ustadz Edi untuk terus berbuat baik dan mengabdi bagi masyarakat.

Rumah untuk Gilang (Korban Kebakaran di Majalaya)

https://kitabisa.com/rumahuntukgilang

Gilang bermimpi untuk menjadi seorang Haji. Namun kebakaran yang menimpa ia dan keluarga mengubah segalanya: rumah dan harta tersikat habis, tanpa sisa. Kini Gilang terpaksa harus menumpang di sebuah kontrakan kecil, dengan 4 keluarga korban lainnya. Perubahan juga nampak pada diri Gilang, yang jadi lebih pendiam. Meski begitu, Gilang tetap optimistis bahwa suatu hari ia bisa hidup dengan layak. Melalui Millennials Berkarya, Zahra dan teman relawan lainnya pun berinisiatif untuk menghimpun dana pembangunan rumah baru bagi keluarga Gilang.

Ketigabelas inisiaitif di atas tentu sulit untuk terlaksana, apabila tak ada uluran dari banyak orang. Millennials Berkarya pun turut mengapresiasi dan mendukung mimpi mereka melalui pemberian sak semen.

Apapun misi dari inisiatif di atas, semua kembali pada satu hal yang sama: keinginan untuk bisa bermanfaat bagi sekitar. Tak selalu harus kita yang mengalami, namun alangkah baiknya jika kita mencoba peduli pada sesama.