Kita patut bersyukur bahwa pada dasarnya para pendahulu kita telah membuat fondasi yang baik untuk kehidupan saat ini. Mulai dari pembangunan di bidang teknologi hingga transportasi, semuanya membuat hidup jadi terasa lebih mudah.

Sayangnya, tak semua sempat merasakan kemudahan yang sama. Setidaknya, itulah yang dialami oleh warga desa di Ciaruteun Ilir, serta teman-teman penyandang disabilitas di Autism Care Center, Bandung.

Kondisi keduanya yang membutuhkan bantuan terkuak ke publik melalui kompetisi Millennials Berkarya. Priyatno Nugroho merupakan campaigner yang membawa permasalahan minimnya fasilitas pendidikan di desa Ciaruteun Ilir di kompetisi galang dana ini. Semua dilakukan untuk membantu usaha Kang Cecep, seorang OB alias office boy yang berjuang mengupayakan sekolah berfasilitas baik di desa kelahirannya tersebut.

Dengan dana sendiri dan bantuan dari warga serta sukarelawan, ia berhasil membuat sekolah sederhana untuk anak-anak di sana. Sebelum SMP Terbuka Mentari yang ia prakarsai hadir, anak-anak di sana harus menempuh perjalanan hingga 4,5 kilometer dengan berjalan kaki melewati jalanan yang berlubang, tanpa penerangan yang baik. Hanya berjarak 2 jam perjalanan dari Jakarta, namun kondisi yang terjadi di desa ini sangatlah miris.

https://kitabisa.com/bantuobbangunsekolah

 

Sebagai orang yang tak lulus SMA, Kang Cecep ingin anak-anak di desanya memiliki masa depan yang lebih dari dirinya. Itulah sebabnya ia bertekad untuk mendirikan SMP Terbuka Mentari. Namun dengan semakin bertambahnya jumlah murid yang difasilitasi, maka kebutuhan akan bangunan baru jadi tak terelakkan lagi. Itulah mengapa Priyatno Nugroho mengajukan proyek sosial tersebut ke kompetisi Millennials Berkarya; agar langkah Kang Cecep dan warga di sana jadi semakin ringan. Terbukti, proyek ini menempati urutan pemenang keempat di Millennials Berkarya.

Aksi nyata untuk kebaikan semua, tanpa pandang bulu

 

https://kitabisa.com/ruangtenanganakautis

 

Lain halnya dengan inisiatif pembangunan ruang tenang anak di Autism Care Center Hasanah, yang diprakarsai oleh Rizyky Awalia. Sempat bertugas di sana sebagai sukarelawan, Rizky melihat langsung bagaimana care center tersebut berupaya keras memberikan pelayanan bagi para penyandang disabilitas yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Hanya saja, Autism Care Center Hasanah pun mengalami kesulitan dana untuk bisa menyediakan ruang tenang yang mumpuni tatkala anak-anak di sana sedang mengalami tantrum. Melalui kompetisi Millennials Berkarya, Rizky bermimpi untuk bisa membangun ruang tenang tambahan untuk para penghuni di sana. Apabila memungkinkan, ia juga berharap bisa membangun perpustakaan sederhana, untuk kebutuhan edukasi maupun terapi di sana. Inisiatif nyata dari Rizky ini pun mendapatkan perhatian dari banyak orang. Di kompetisi Millennials Berkarya sendiri, inisiatif ini menjadi pemenang urutan kelima.

Berkaca dari dua cerita di atas, terdapat satu hal yang bisa kita petik. Bahwasanya penting untuk memperhatikan masa kini. Namun, jangan pernah lupa untuk mempersiapkan masa depan. Terlebih, jika kita bisa membantu masyarakat untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi penerus. Sebab jika bukan kita yang melakukannya, lantas siapa lagi?

 

 

Sumber gambar : https://kitabisa.com/bantuobbangunsekolah