Kita mungkin sering mendengar mengenai ketidaksenjangan yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Sementara kita di ibu kota mungkin memiliki kemudahan untuk mengakses berbagai fasilitas, banyak saudara kita di daerah pelosok yang bahkan harus menempuh perjalanan berkilo-kilometer untuk bisa sekolah.

Meski mungkin tak kita alami secara langsung, namun pada dasarnya sebagai anak muda yang merupakan duta pemimpin di masa depan, kita haruslah berbuat sesuatu. Beruntung, itulah semangat yang diemban oleh para pemenang kompetisi Millennials Berkarya, yang diadakan oleh Semen Indonesia dengan menggandeng Kitabisa.com.

Banyak cerita menarik yang bisa dipetik dari perjuangan para pemenang tersebut. Penasaran? Yuk, simak kisah mereka!

Kapal untuk Sekolah Terapung

The Floating School, atau yang dalam bahasa Indonesia mungkin dapat diartikan sebagai sekolah terapung, memiliki kisah yang sangat unik. Inisiatif  ini muncul untuk memfasilitasi pendidikan informal bagi penduduk di Kabupaten Pangkep, Makassar melalui kapal terapung.

https://kitabisa.com/kapalsekolahterapungYa, dengan sengaja mereka berlayar menggunakan kapal kayu milik penduduk setempat, dan pergi ke pulau-pulau yang ada di sana untuk memberikan materi pengajaran kepada para penduduk lokal. Workshop yang diadakan meliputi materi menggambar, musik, komputer, hingga fotografi. Relawan yang tergabung di The Floating School berjuang keras untuk menjalankan kegiatan tersebut, hingga akhirnya mereka bergabung di kompetisi Millennials Berkarya dan terpilih sebagai 1st Most Millennials Hustler “Gold Winner”.

 Jembatan Baik untuk Sikucur

Untuk pemenang kedua, terdapat inisiatif pembangunan Jembatan Sikucur yang diprakarsai oleh teman-teman di Jembatan Baik. Semua bermula ketika diterimanya surat dari Arief, seorang mahasiswa asal Padang. Arief merupakan orang menyaksikan langsung betapa mirisnya kehidupan masyarakat di desa Sikucur, akibat ketiadaan insfrastruktur yang memadai di sana.

https://kitabisa.com/jembatanbaik

Bayangkan, desa yang dikelilingi bukit membuat akses komunikasi dan transportasi jadi sulit. Untuk sekolah ataupun berdagang, mereka harus menempuh jarak puluhan kilometer berjalan kaki melewati medan yang tak ringan. Belum lagi jika hujan; luapan air sungai membuat mereka kesulitan berjalan hingga aktivitas berdagang pun jadi terhambat.

Satu Sumur untuk Tiga Desa

Masih seputar pembangunan fasilitas desa, kisah yang diangkat oleh pemenang ketiga Millennials Berkarya tak kalah menggugah hati. Banyak dari kita bahkan mungkin belum mendengar mengenai isu kekeringan yang melanda Kecamatan Raijua, yang menjadi sasaran inisiatif ini.

 

https://kitabisa.com/satusumutuktigades

Bayangkan, kehidupan tiga desa yang terdiri dari sekitar 1000 orang harus bergantung pada 1 sumur saja sebagai sumber air. Untuk mengaksesnya pun menyita perjalanan kaki hingga 20 kilometer. Karena satu sumur dibuka terjatah, maka tak heran jika sering terjadi kesalahpahaman antarwarga karena perebutan air tersebut.

Kondisi-kondisi di atas sangatlah miris. Kejadiannya memang tak kita alami, namun sebenarnya terjadi amat dekat dengan kita. Itulah sebabnya, peranan anak muda sangat dibutuhkan untuk membantu pembangunan lingkungan sosial kemasyarakatan. Sebab, di bahu millennial tergantung harapan masyarakat, untuk perubahan yang lebih baik.

Ketiga kisah di atas telah membuktikan bahwa niat yang baik akan mendapatkan sambutan yang baik pula, apabila diperjuangkan. Melalui kompetisi Millennials Berkarya, mereka bisa menyebarkan misi tersebut ke banyak orang, bahkan melakukan penggalangan dana secara sukarela.

 

 Jika sudah ada yang berani berbuat aksi nyata seperti ini, maka kapan kamu berani mengambil tongkat estafet selanjutnya?