“ Sekarang anak muda yang beraksi”

Anak muda zaman sekarang banyak dianggap sebagai generasi yang apatis dan lebih peduli terhadap sosial media daripada lingkungan sosialnya. Namun ternyata hal itu tak sepenuhnya benar lho! Masih ada anak-anak muda yang bertekad untuk mengabadikan dirinya untuk kepentingan masyarakat banyak, seperti di bawah ini:

1. Arif Nurman dengan karya “Jembatan Baik untuk Sikucur”

https://kitabisa.com/jembatanbaik

Desa Sikucur merupakan desa terpencil di daerah Sumatera Barat yang sangat memprihatinkan infrastrukturnya. fasilitas-fasilitas sosial seperti pasar, sekolah, puskesmas, dan lain-lain terletak dibukit sebrang yang dipisahkan oleh sungai. Sehingga warga harus terpaksa menyebrangi sungai untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Namun kini berkat kontribusi Arif Nurman, jembatan dapat dibangun untuk mempermudah akses warga Sikucur dalam beraktivitas.

2. Ely Goro Leba dengan karya “Satu sumur untuk Tiga Desa”

https://kitabisa.com/satusumutuktigades

Pulau Raijua di Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu daerah di Indonesia yang kesulitan air. Hanya ada satu sumber air berupa sumur yang lebarnya hanya satu meter dengan kedalaman 30-40 meter. Mirisnya lagi, warga Rajiua harus berjalan sejauh 10-20 KM dan berebut dengan ratusan masyarakat lainnya. Untuk itu, Ely Goro Leba, tak henti memperjuangkangkan sumber air bagi kampung halamannya tersebut. Usahanya pun membuahkan hasil setelah ceritanya berhasil menarik hati ratusan netizen untuk berdonasi pada proyek ini.

3. Rizky Awalia Nurus Sidik dengan karya “Ruang Tenang untuk Autism Center”

https://kitabisa.com/ruangtenanganakautis

Hasanah Autism Care Center Bandung, merupakan pusat terapi bagi anak-anak penyandang disabilitas dari kalangan tak mampu. Meski dikhususkan sebagai sarana terapi untuk anak disabel, care center ini kekurangan infrastruktur yang memadai karena minimnya dana yang ada. Untuk itu, Rizky berusaha menggalang dana agar care center ini dapat memiliki ruang tenang untuk meraawat para pasien yang sedang tantrum.

4. Rahmat HM dengan karya “Kapal untuk Sekolah Terapung”

https://kitabisa.com/kapalsekolahterapung

Topografi yang berupa kepulauan, membuat banyak warga Sulawesi Selatan memutuskan untuk putus sekolah dikarenakan biaya yang mahal mencapai darat untuk dapat bersekolah. Padahal, ijazah SD, SMP, maupun SMA mereka tak cukup untuk dapat mengadu nasib di kota besar. Untuk itu Rahmat berinisiatif untuk mengadakan sekolah terapung dengan kapal semi tradisional yang dapat memfasilitasi anak muda di sekitar kawasan tersebut untuk mengembangkan bakatnya.

5. Priyatno Nugroho yang membantu seorang Office Boy untuk bangun sekolah di desanya

https://kitabisa.com/bantuobbangunsekolah

Kang Cecep, pemuda asal Ciaruteun, Bogor, yang bekerja sebagai office boy di sebuah perusahaan di bilangan Tebet Jakarta Selatan, ternyata mempunyai jiwa sosial yang tinggi untuk meningkatkan pendidikan anak-anak di daerahnya. Di desa ini hampir 80% anak lulusan sekolah dasar tak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi karena kendala transportasi. Untuk itu, kang Cecep dibantu oleh Priyatno Nugroho berinisiatif untuk menggalang dana demi terwujudnya sarana pendidikan yang berada di desa tersebut.

6. Nur Azis Kurnianto dengan karya “Bangun Yayasan Berbagi Semangat”

https://kitabisa.com/berbagisemangat

Tergerak oleh rasa prihatin melihat anak yatim piatu yang hidup tak berkecukupan di Klaten, Nur Azis pun membentuk sebuah yayasan yang dinamakan Berbagi Semangat. Dengan motto nya yang berbunyi, “Spirit For Better Lillahita’ala”, Azis Percaya bahwa esensi dari kehidupan adalah dengan diisi untuk saling bantu-membantu.

7. Boanergis Semarto dengan karya “Bantu Bangun Sekolah Adik-Adik di Mamasa”

https://kitabisa.com/sekolahdimamasa

Boan yang merupakan mahasiswa rantau, kaget saat mendengar kabar bahwa Sekolah dikampung halamannya, Mamasa, berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. SDK 014 Tallang Bulawan, provinsi Sulawesi Barat ini hanya beratapkan lembaran seng serta berdinding rumbia, lantainya pun hanya berupa tanah tanpa ubin. Berangkat dari concern mengenai saran pendidikan yang tak memadai itu, Boan berinisiatif untuk melakukan penggalangan dana untuk membangun kembali sekolah tersbeut agar layak dipakai dalam kegiatan belajar mengajar.

8. Fatma Nur Khaerani dengan karya “Lanjutkan Perjuangan (Alm.) Pak H. Oji”

https://kitabisa.com/lanjutkanperjuangan

Berawal dari kepedulian Alm H.Oji kepada pendidikan agama anak anak kampungnya yang memang belum memiliki wadah, madrasah Nurul Ikhwaan didirikan. Kini saat H. Oji telah tiada, pengajaran diteruskan secara sukarela oleh anaknya. Namun karena kurangnya dana perawatan, bangunan madrasah pun lapuk dimakan usia dan tak layak lagi dipakai. Berangkat dari hal tersebut Fatma melakukan penggalangan dana untuk melanjutkan itikad baik Alm. Pak H. Oji.

9. Nurul Hidayati dengan karya “Membangun Pesantren Yatim Muslimah Penghapal Al-quran”

https://kitabisa.com/bangunmajlis

Berawal dari hanya beberapa orang, kini jumlah calon hafidz wanita yang diasuh oleh Pesantren Nurul Hidayah telah mencapai puluhan orang. Datang dari berbagai pelosok Indonesia, para calon hafidz yang kebanyakan berlatar belakang yatim piatu, ini bercita-cita untuk mendapatkan penghidupan serta pendidikan yang layak. Untuk itu, Nurul menggalang dana agar fasilitas pendidikan yang memadai dapat cepat terealisasi.

10. Insan Bumi Mandiri dengan karya “2 Tahun Tanpa Gaji, Guru Hanya Minta Perpustakaan”

https://kitabisa.com/perpustakaanmadrasah

MTS Al Islamiyah Bampalola, Kab. Alor, Nusa Tanggara Timur tidak bisa dibilang dalam kondisi yang layak. Fasilitas yang seadanya serta penyaluran dana yang sangat tersendat, membuat sekolah ini minim fasilitas. Bahkan para guru hanya mendapat gaji RP.73.000 per bulannya. Namun ketika ditanya, para guru lebih berharap dengan pengadaan perpustakaan bagi siswanya dibanding kenaikan gaji. Untuk itu, yayasan Insan Bumi Mandiri mengadakan penggalangan dana agar tujuan pengadaan perpustakaan dapat tercapai.

 

Selain diberikan hadiah uang tunai untuk membantu menjalankan misi-misi mulianya, para finalis millenials berkarya ini juga diberikan rangkaian bekal pembelajaran seperti coaching clinic pada 24 Agustus yang lalu.

Bekerja sama dengan Kitabisa.com. Coaching clinic kali ini mengusung tema “Aksi Nyata Karya Anak Bangsa”. Event ini menghadirkan pembicara-pembicara yang kompeten dalam bidangnya seperti Dhenok Pratiwi dari Change.org, serta Goris Mustaqim dari Asgar Muda. Berbicara dengan tema how to use digital for social movement, Dhenok Pratiwi memberi insight untuk para finalis tentang bagaimana menyikapi berkembang pesatnya teknologi, terutama teknologi telekomunikasi, dalam menyebarkan pesan-pesan positif bagi kepentingan masyarakat.

Rangkaian acara ini ditutup dengan acara awarding night yang bertempat di Conclave coworking space Jakarta. Mengundang pembicara terkemuka seperti Anindya Putri, yang merupakan Puteri Indonesia 2015. Pada akhir acara pun diumumkan 3 pemenang utama yang akan mendapat dukungan dana dari Semen Indonesia.

Nah, mereka sudah membuktikan bahwa anak muda bisa berprestasi! Sekarang giliran kamu!